Arsip Berita

Error message

Notice: Undefined index: tanggal_string in arsip_berita_view->ShowDetailBerita() (line 53 of /usr/home/www/caleg.kabarkita.org/view/arsip-berita-view.php).

Home Arsip Berita

Judul Kotoran Ayam Dibidik Petani dan Produsen Pupuk
URL http://www.pikiran-rakyat.com/node/72708
Tanggal
Body BANDUNG, (PRLM).- Seiring meningkatnya minat petani menggunakan campuran bahan-bahan organik, kotoran ayam kini menjadi bahan rebutan para petani dan produsen pupuk organik. Sejak beberapa waktu terakhir, kotoran ayam menjadi bernilai jual, apalagi jumlah kebutuhan lebih tinggi dibandingkan stok akibat banyaknya peternakan ayam  rakyat yang bangkrut. Pengurus Gabungan Kelompok Taruna Tani Wibawa Mukti, Dadang senada dengan Wakil Ketua Gapoktan Wibawa Mukti, Desa Talaga, Kec. Kawali, Kab. Ciamis, Ruslan, mengatakan Minggu (8/6), kini semakin banyak produsen pupuk organik, terutama asal sentra produksi di Garut. Mereka mencari kotoran ayam sambil menawarkannya dengan harga lebih tinggi. Kotoran ayam yang paling diminati, umumnya dihargai Rp 4.000,00/kg kering, karena strukturnya lebih halus. Sedangkan kotoran ayam betina Rp 3.000,00/kg kering. "Karena para petani pun sama-sama membutuhkan, di desa kami kini ada kesepakatan agar kotoran ayam tak dijual. Apalagi, para petani di desa kami semakin banyak menggunakan bahan-bahan organik untuk memulihkan kesuburan lahan," kata Dadang. Desa Talagasari sendiri termasuk dari 36 desa di Jabar yang berpredikat Desa Pengelolaan Tani Terpadu (PTT) yang dibina Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jabar. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jabar, Lucky Rulyaman Djunaedi, mengatakan, didorongnya petani menggunakan pupuk organik, selain upaya pemulihan lingkungan, juga antisipasi semakin tingginya harga gas selaku bahan baku pupuk urea. "Jika suatu saat pemerintah kembali menaikan harga pupuk urea akibat mahalnya harga gas, para petani sudah terbiasa melakukan alternatif melalui pengelolaan tanaman terpadu pupuk organik dengan mengurangi bahan-bahan kimia. Dari beberapa kali panen, pengelolaan tani terpadu tetap menghasilkan produksi sama tinggi," katanya. (A-81/A-140) ***