Arsip Berita

Error message

Notice: Undefined index: tanggal_string in arsip_berita_view->ShowDetailBerita() (line 53 of /usr/home/www/caleg.kabarkita.org/view/arsip-berita-view.php).

Home Arsip Berita

Judul Melukis Itu Seperti Alunan Dzikir
URL http://www.pikiran-rakyat.com/node/312697
Tanggal
Body MUKHIJAB/"PRLM"ATONG Hadiyanto (berpeci di sisi kiri) sedang menunjukkan karya-karyanya yang terpampang di dinding maupun terpajang di rak etalase saat pemeran lukisan tunggal bertajuk "Tidakkah Cukup Hanya Dengan Allah” di Sellie Cafe, Jln. Gerilya 822 Prawirotaman II Yogyakarta.* YOGYAKARTA, (PRLM).- Melukis indah terjadi secara alami, pergerakan tangannya bagaikan aliran alur sungai yang mengalir sesuai alur alam. Ahmad Zuhair Firdaus (AZF) Tri Hadiyanto merasakan kegiatan melukis semacam itu. Bahkan, perupa yang akrab disapai Atong Hadiyanto itu, melukiskan lebih dahsyat lagi, saat melukis aliran tangannya laksana seseorang sedang berdzikir. Alumnus Studio Seni Grafis, Jurusan Seni Rupa Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB (1988) tersebut, menikmati gerakan dzikir sebagai pembimbing secara spiritual dalam melukis dan hasilnya sangat menakjubkan. “Saya menggambar seperti tengah dzikir, tangan saya pokoknya jalan saja,” kata dia di sela pameran tunggal di Sellie Cafe, Jln. Gerilya 822 Prawirotaman II Yogyakarta, Senin (19/1/2015). Dia menggelar pameran tunggal sejak Kamis (15/12015) dan mendapat perhatian cukup luas dari penikmat seni dan wisatawan di kawasan tersebut. Sesuai dengan aliran dzikir, ia pun dalam proses melukis tanpa rencana (desain), tanpa konsep dan ketentuan rigit. Semua proses melukisnya dibiarkan mengalir dengan denyut impulsid, ego dan superego secara bersamaan, yang dikenal sebagai gaya mirip surealistik abstrak. “Ada harapan besar yang ingin saya ungkapkan dalan setiap melukis. Ini jati diri saya yang tak pernah terbelenggu oleh apapun. Tak peduli dengan pasar. Saya hanya mengikuti kehendak Allah Swt saja,” kata pelukis yang kini tinggal di Baciro, Yogyakarta. Dengan gayanya yang alami semacam itu, dia tidak terobsesi oleh jumlah produk lukisan yang menggunung. Dia mengaku sejak kecil melukis baru menghasilkan tidak lebih dari 100 karya. Yang diutamakan lebih kualitas nilai seni dan spiritualitas. “Pokoknya melukis hanya merupakan ungkapan spontan saya apa yang sedang saya rasakan. Saya bebas melakukan apa saja. Karena itu selama hidup saya sejak kecil melukis hasilnya ya belum saya 100 karya,” kata dia dalam pameran tunggal bertajuk “Tidakkah Cukup Hanya Dengan Allah”. Dengan model lukisnnya yang berdimensi spiritualitas, maka tema ekspresi dari kanvasnya kadang bernuansa sufistik, sebagai contoh, “REUNION: A Black White Celebration”, suatu lukisan yang mengekspresikan pengendapan pengalam spiritual, berupa pertemuan kembali (reunion) antara dirinya sebagai makhluk (ciptaan) dengan khaliknya (sang pencipta). (mukhijab/A-147)***