Arsip Berita

Error message

Notice: Undefined index: tanggal_string in arsip_berita_view->ShowDetailBerita() (line 53 of /usr/home/www/caleg.kabarkita.org/view/arsip-berita-view.php).

Home Arsip Berita

Judul Pendapatan Perajin Batu Akik Melonjak
URL http://www.pikiran-rakyat.com/node/313568
Tanggal
Body ADANG JUKARDI/"PRLM"AJI (55) salah seorang perajin batu akik, tengah mengosok bahan batu akik pesanan konsumen di Jalan Mayor Abdurachman, Sumedang, Minggu (25/1/2015). Seiring booming-nya penjualan batu akik saat ini, pendapatan para perajin batu akik di Kab. Sumedang melonjak.* SUMEDANG, (PRLM).- Pendapatan para perajin batu akik di Kab. Sumedang melonjak, seiring maraknya penjualan batu akik saat ini. Meningkatnya pendapatan mereka, di antaranya dari ongkos jasa membentuk bahan batu akik, menggosok hingga memoles batu akik hingga mengkilap dan siap pakai. “Alhamdulillah, penghasilan dari mulai membentuk bahan baku batu akik sampai jadi dan siap pakai, per hari bisa mencapai rata-rata Rp 800.000. Belum lagi penghasilan dari penjualan batu akik serta batang atau cincinnya. Bahkan saya sempat menjual batu akik cat eye hingga laku Rp 3 juta,” ujar Aji (55) salah seorang perajin batu akik di Jalan Mayor Abdurachman, Sumedang, Minggu (25/1/2015). Menurut dia, penghasilan tersebut hampir naik dua kali lipat dari sebelumnya sekitar Rp 400.000-Rp 500.000 per hari. Pendapatan itu, di antaranya dari ongkos jasa membentuk, menggosok hingga memoles batu akik rata-rata Rp 50.000 per batu. Begitu pula dari jasa memperkecil ukuran dan merubah bentuk batu akik, ongkosnya Rp 30.000 per batu. Terkadang, ada juga yang hanya ingin memoles batu akik sampai kinclong, ongkosnya sekitar Rp 25.000- 30.000. Batu akik yang banyak digosok di tempatnya, sebagian besar batu akik lokal. Seperti halnya jenis hijau garut bungbulang, bacan, pancawarna edong, lavender (kecubung), giok aceh dan sungai dareh. “Saya sangat bersyukur, dengan booming-nya batu akik sekarang ini membuat usaha para perajin menggeliat. Setiap harinya, konsumen berdatangan termasuk dari luar kota. Dari mulai masyarakat biasa, pejabat, pengusaha besar, kolektor sampai anak-anak muda, kini sedang gandrung batu akik. Tren batu akik tak hanya sebatas koleksi, melainkan life style masyarakat saat ini,” kata Aji Menggeliatnya usaha para perajin batu akik ini, lanjut dia, hendaknya difasilitasi oleh pemerintah daerah. Selain menggelar pelatihan tentang cara memotong bahan sampai memoles batu akik, pemerintah pun harus membantu peralatannya. Terlebih peralatannya relatif sederhana, yakni menggunakan mesin gurinda berbagai ukuran dan fungsi, seperti gurinda untuk membentuk bahan batu akik, menggosok hingga menghaluskan sampai finishing. “Supaya lebih bening dan terlihat kinclong, bisa digosok lagi dengan bambu atau bubuk intan,” tuturnya yang mengaku sempat memberikan pelatihan kerajinan batu akik kepada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Sumedang. Lebih jauh Aji menjelaskan, agar fenomena demam batu akik berlangsung lama, pemerintah hendaknya menjadikan usaha itu sebagai potensi lokal daerah yang mesti dikembangkan. Upaya bisa dilakukan dengan menggelar berbagai pameran batu akik, mengadakan kontes bahkan menyediakan tempat khusus untuk para perajin. “Melalui fasilitasi pemerintah, usaha kami akan terbantu dan diharapkan bisa berlangsung kontinyu. Mudah-mudahan, tren batu akik bisa berlangsung lama sehingga perekonomian dan kesejahteraan para perajin bisa terangkat. Sebelum ramai batu akik, usaha para perajin batu akik lesu bahkan nyaris terpuruk. Alhamdulillah, dalam beberapa bulan terakhir ini, usaha kami bisa bangkit dan bergairah lagi,” ujarnya. Ia menambahkan, maraknya penjualan batu akik khususnya batu akik lokal, tak hanya menguntungkan para perajin saja, melainkan juga para penjual batu akik. Karena keuntungannya cukup menggiurkan, sehingga para penjualnya bertambah banyak. “Yang asalnya penjual batu akik di Sumedang ini hanya satu-dua orang saja di depan kafe Hariring Jalan Prabu Geusan Ulun, kini sudah tersebar hampir di semua tempat. Misalnya, di daerah Tegalkalong, Ketib dan Jalan Angkrek. Ini potensi yang harus dikembangkan pemerintah. Apalagi sebagian besar perajin maupun penjual batu akik, tergolong usaha kecil menengah,” ujarnya. Sementara itu, Supriadi (45) salah seorang konsumen sekaligus kolektor batu akik warga Kelurahan Pasanggrahan Baru, Kec. Sumedang Selatan mengatakan, dengan booming-nya batu akik, dirinya mengaku sering membentuk dan menggosok bahan batu akik, seperti bacan, giok aceh, hijau garut bungbulang dan pancawarna. “Dari dulu saya senang mengoleksi batu akik. Kebetulan sekarang lagi booming, saya makin bersemangat menambah koleksi batu akik. Terkadang kalau ada orang yang tertarik, ya saya lepas (jual-red),” katanya. Dengan maraknya batu akik saat ini, lanjut dia, perlu ada komunitas batu akik di Sumedang. Selain untuk melestarikan batu akik lokal sebagai salah satu kekayaan alam di Jawa Barat, khususnya Sumedang, secara tidak langsung turut membantu menggairahkan usaha dan kesejahteraan para perajin serta penjual batu akik di Sumedang. “Diharapkan, tren batu akik tak hanya sesaat, melainkan bisa berlangsung lama sehingga menjadi potensi lokal daerah khususnya di Sumedang,” ucap Supriadi. (Adang Jukardi/A-89)***