Arsip Berita

Error message

Notice: Undefined index: tanggal_string in arsip_berita_view->ShowDetailBerita() (line 53 of /usr/home/www/caleg.kabarkita.org/view/arsip-berita-view.php).

Home Arsip Berita

Judul Makan Pecel Lele, Bayar dengan Sampah
URL http://www.pikiran-rakyat.com/node/313510
Tanggal
Body HANDRI HANDRIANSYAH/"PRLM"PENGUNJUNG menikmati aneka menu lele di Warung Kencana, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung. Di warung tersebut, sampah menjadi alat tukar transaksi utama.* SOREANG, (PRLM).- Harganya yang relatif murah membuat pecel lele bisa dijangkau semua kalangan. Dengan uang Rp 10.000 saja, menu tersebut bisa didapatkan dengan sepiring nasi putih. Meskipun demikian orang pasti akan kaget sekaligus heran jika bisa mendapatkan pecel lele di warung makan, tanpa mengeluarkan uang. Hanya dengan membawa sampah, siapapun bisa perut sudah bisa kenyang menyantapnya. Itulah yang terjadi di Warung Kencana, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung. Tak hanya aneka masakan lele, warung milik Posko Hijau itu juga menyediakan berbagai produk ramah lingkungan yang bisa dibeli dengan sampah. Sang pemilik Sonson Garsoni mengatakan, warungnya tak hanya menyediakan berbagai jenis masakan lele. Namun berbagai produk lain seperti pakan lele, beras organik, bibit tanaman hidrofonik juga tersedia. Di warung itu, alat tukar utama dalam transaksi bukanlah uang, melainkan berbagai jenis sampah terpilah. "Sampah plastik polietilen satu kilogram itu bernilai Rp 10.000, jadi cukup untuk membeli pecel lele di sini," katanya. Berawal dari kepeduliannya terhadap lingkungan, Sonson memang sudah menjadikan sampah sebagai peluang usaha sejak 2004 lalu. Berbagai peralatan pembuat biogas, pengolah bijih plastik dan pembangkit listrik telah ia ciptakan dan masuk di pasar domestik serta internasional. Kini, Sonson ingin mengajak masyarakat untuk melihat sampah sebagai komoditas ekonomis. Ia menekankan bahwa semua jenis sampah yang terpilah, memiliki nilai ekonomis tersendiri. Di mata Sonson sampah sisa makanan rumah tangga seperti tulang ikan, daging, dan ayam pun cukup berharga. "Saat kita makan ayam, 60 persennya terbuang. Padahal itu bisa bernilai Rp 3.000 per kilogram di sini," ucapnya. Hal itu dibenarkan oleh Cipto (50), warga Pameungpeuk yang sejak 6 bulan lalu menjadi nasabah Posko Hijau. Sopir kendaraan bak terbuka itu memanfaatkan waktu luangnya kala sedang tidak ada muatan untuk mengangkut sampah organik dari rumah-rumah dan pabrik. Cipto mengaku, penghasilannya sebagai sopir tidak menentu. Saat tak beruntung ia bahkan pernah tak mendapatkan uang dalam sebulan. Namun dengan mengumpulkan sampah, ia bisa meraup Rp 11,5 juta dalam 6 bulan atau hampir Rp 2 juta per bulan. Sementara itu Camat Pameungpeuk Rusli mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi langkah Posko Hijau. Ia menilai persoalan sampah akan lebih cepat teratasi jika masyarakat meniliknya dari sisi ekonomis. Rusli berharap, kesadaran masyarakat dalam memilah sampah mereka bisa meningkat. "Kalau hanya diimbau terkadang sulit. Namun kalau mereka tahu ada nilai jualnya, kesadaran bisa tumbuh sendiri," ujarnya. (Handri Handriansyah/A-147)***