Arsip Berita

Error message

Notice: Undefined index: tanggal_string in arsip_berita_view->ShowDetailBerita() (line 53 of /usr/home/www/caleg.kabarkita.org/view/arsip-berita-view.php).

Home Arsip Berita

Judul Prof. Stefanus Temukan Beton Memadat Mandiri
URL http://www.pikiran-rakyat.com/node/314272
Tanggal
Body TOK SUWARTO/"PRLM"Prof. Stefanus.* SOLO, (PRLM).- Problem serius yang sering muncul dalam teknik pembuatan beton cor, adalah terjadinya porositas atau kekeroposan yang berakibat rendahnya kualitas beton dan rapuhnya daya tahan. Masalah tersebut menimbulkan kegalauan pakar beton Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Prof. Dr. Stefanus Adi Kristiawan. Selama tiga tahun lebih, dosen fakultas teknik jurusan teknik sipil tersebut berkonsentrasi melakukan penelitian dan serangkaian uji coba untuk mengatasi kelemahan porositas beton cor. Sampai akhirnya Stefanus menemukan jawaban berupa teknik pencampuran bahan pembuat beton yang dia sebut "campuran beton memadat mandiri". Dia menjelaskan kepada wartawan, di kampus UNS Kentingan, Solo, Jumat (30/1/2015), beton yang berkualitas baik adalah beton yang memiliki kuat tekan tinggi, kedap air dan tidak keropos. Tingkat porositas dan permeabilitas yang tinggi, akan menjadikan tingkat keawetan beton menjadi rendah, sehingga beton tidak dapat digunakan sesuai masa layannya. "Beton yang porous rentan terhadap tempat yang agresif, zat-zat mudah masuk ke dalam beton dan tulangan-tulang besi di dalam beton akan terkorosi. Tulang besi yang terkorosi dapat menjadi lemah, sehingga tidak dapat berfungsi maksimal dan merusak beton di sekelilingnya," jelasnya. Di depan wartawan, Stefanus menunjukkan salah satu contoh beton cor hasil penelitiannya. Beton cor berbentuk balok kecil bewarna abu-abu muda tersebut, tampak berbeda dengan beton cor pada umumnya dengan tekstur kasar dengan posri-pori kurang rapat. Sedangkan beton padat mandiri bertekstur halus dan pori-porinya rapat nyaris tidak tampak dengan mata telanjang. “Ini yang namanya beton memadat mandiri,” ujar guru besar dengan keahlian bidang material dan struktur itu. Menurut Stefanus, beton memadat mandiri yang disebut self compacting concrete (SCC) pertama kali diperkenalkan pakar teknik sipil Okamura di Jepang pada 1990-an. Sesuai namanya, beton memadat mandiri dan berproses dalam pemadatan mengisi ruang kosong sendiri tanpa bantuan alat pemadat atau mesin penggetar (vibrator). Dia berpendapat, dengan kemampuan tersebut teknologi beton sangat baik untuk diterapkan dalam pembangunan struktur bangunan dengan konstruksi besi rapat. Beton memadat mandiri dapat mengalir mencapai sudut-sudut yang sulit dijangkau pekerja dan mampu melalui celah-celah antar besi tulangan tanpa terjadi segregasi atau pemisahan material. Material dasar yang digunakan Prof. Stefanus untuk pembuatan beton memadat mandiri, tidak berbeda dengan campuran beton konvensional, yakni berupa gabungan pasir, kerikil, semen, dan air. "Perbedaannya, ada pada porsi penggunaan agregat kasar dan semen. Pada campuran beton konvensional, proporsi penggunaan agregat kasar adalah 60-70 persen. Sedangkan pada beton memadat mandiri dibatasi maksimal 40 persen dan sisanya berupa agregat halus dan semen," katanya. Selain itu, sambungnya, ada penambahan superplasticizer, yaitu bahan kimia yang berfungsi menambah kerecahan campuran supaya mudah diaduk tanpa menggunakan banyak air. Nilai faktor air semen (fas) tersebut juga akan memengaruhi porositas beton. 'Semakin kecil nilai fas, tingkat porositas beton akan semakin kecil dan beton yang dihasilkan akan semakin kuat dan tahan lama. Tapi, kalau menggunakan rumusan itu penggunaan semen lebih banyak. Arrtinya, biaya juga lebih mahal. Hal itu yang saya carikan solusinya, bagaimana supaya penggunaan semen itu bisa dikurangi,” sambungnya. Penggunaan semen pada campuran beton memadat mandiri akhirnya bisa dikurangi dengan menambahkan limbah sisa pembakaran batu bara yang disebut abu terbang (fly ash). “Penggunaan abu terbang inilah yang membedakan beton memadat mandiri yang saya kembangkan dengan yang sudah dikenal selama ini,” tuturnya lagi (Tok Suwarto/A-89)***