Arsip Berita

Error message

Notice: Undefined index: tanggal_string in arsip_berita_view->ShowDetailBerita() (line 53 of /usr/home/www/caleg.kabarkita.org/view/arsip-berita-view.php).

Home Arsip Berita

Judul Jokowi Mencoba Melepaskan Diri Dari Tekanan
URL http://www.pikiran-rakyat.com/node/314325
Tanggal
Body JAKARTA, (PRLM).-Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Gun Gun Heryanto menilai pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto sebagai cara untuk menaikan daya tawar Jokowi terhadap orang-orang di sekitarnya. Artinya, kata Gun Gun, Jokowi mencoba melepaskan diri dari tekanan mereka. "Ini menurut saya masih dalam sekedar naikin daya tawar, terutama dengan orang-orang yang menjadi lingkaran presiden saat ini. Maksudnya, Jokowi mencoba melepaskan diri dari tekanan," ucapnya, di Jakarta, Jumat (30/1/2015). Gun Gun menjelaskan, apa yang dilakukan Jokowi merupakan bentuk "buying time strategy" yakni dengan cara mengulur kebijakan. Tujuannya, strategi pra kondisi ini untuk membuat netralitas opini, misalnya memanggil dan meminta bantuan tim sembilan. "Perjumpaan Jokowi dengan sejumlah tokoh seperti Prabowo, Habibie dan Kompolnas merupakan manuver yang ketiga yakni membuka peluang-peluang kemungkinan agar bisa bertemu dalam pemahaman yang sama di antara beragam kekuatan yang bertarung," ujarnya. Namun, kata Gun Gun, jikalau Jokowi terus ditekan, sangat mungkin mantan Gubernur Jakarta itu juga akan mencoba mengubah konfigurasi kekuatan. Tekanan itu, kata dia, salah satunya dengan memaksakan seseorang menduduki jabatan tertentu dan publik bereaksi keras menentangnya. "Saya kira sangat tergantung pada follow up Jokowi sendiri kan sama-sama beresiko. Karena dia juga akan melihat juga respons Mega dan kawan-kawan serta respons Prabowo dan kawan-kawan," ucapnya. Hal senada dikatakan Pengamat politik Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia Said Salahudin. Menurut Said, terlalu pagi jika ada yang memprediksi bahwa koalisi merah putih akan menjadi koalisi pendukung Pemerintah, apalagi jika disebut Presiden Jokowi akan meninggalkan KIH untuk berpindah ke KMP. "Analisis politik yang semacam itu saya kira terlalu dangkal. Pertemuan Jokowi dengan Prabowo kemarin (29/1/2015) itu hanyalah pertemuan untuk kepentingan politik jangka pendek yang berbasis pada satu isu saja. Bukan pertemuan untuk membangun kerjasama politik yang bersifat permanen. Isu tersebut terkait dengan urusan Budi Gunawan (BG)," ucap Said. Jadi, kata dia, Jokowi ini sebetulnya ingin mengikuti masukan dari tim independen yang merekomendasikan agar Presiden tidak melantik atau melantik tetapi kemudian memberhentikan BG sebagai Kapolri. Namun, Jokowi juga tahu bahwa apapun pilihan yang akan dia ambil, tetap saja akan bersentuhan dengan DPR. Sebab, UU Kepolisian menentukan pengangkatan dan pemberhentian Kapolri harus dengan persetujuan DPR. "Nah, Jokowi sadar betul bahwa dia akan sulit untuk mendapatkan dukungan dari KIH di DPR, sebab PDI-P yang menjadi motor dari koalisi itu justru menjadi pihak yang paling ngotot menjadikan BG sebagai Kapolri. Maka dicarilah solusi alternatif dengan mengharapkan dukungan dari KMP," ujarnya. Said menjalaskan, sebagai mayoritas di DPR, KMP dinilai oleh Presiden dapat memuluskan niatnya untuk mengubur mimpi BG menjadi Kapolri. Maka terjadilah pertemuan antara Jokowi dengan Prabowo yang menjadi salah satu tokoh penting di KMP. "Dari pertemuan tersebut tampaknya Presiden mendapatkan komitmen dari KMP yang bersedia mengamankan sikap Presiden untuk membatalkan pelantikan ataupun memberhentikan BG sebagai Kapolri setelah lebih dahulu dilantik," ujarnya. Kalau KMP sudah dipastikan bersedia mengamankan sikap Presiden di DPR nantinya, kata Said, maka Jokowi tentu akan lebih mudah mengambil sikap terkait pembatalan pelantikan atau pemberhentian BG sebagai Kapolri. (Miradin Syahbana Rizky/A-89)***